JAKARTA — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase baru yang lebih berbahaya: perang infrastruktur energi.
Memasuki pekan keempat konflik, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman keras. Washington memberi ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan langsung ke pembangkit listrik Iran.
Langkah ini menandai pergeseran strategi dari serangan militer konvensional menuju target vital sipil yang menopang kehidupan sehari-hari.
Di Iran, dampaknya diperkirakan sangat luas. Dengan hampir 500 pembangkit listrik tersebar di seluruh negeri, serangan terhadap fasilitas utama—terutama yang memasok kota besar seperti Teheran—berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial jutaan warga.
Otoritas Iran disebut telah menyiapkan skenario darurat, termasuk langkah mitigasi dan rencana balasan. Teheran menegaskan, setiap serangan terhadap infrastrukturnya akan dibalas dengan menghantam fasilitas energi milik AS dan sekutunya di kawasan.
Ancaman tersebut bukan retorika semata. Serangan rudal Iran sebelumnya telah menghantam fasilitas gas raksasa di Ras Laffan, yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi gas terbesar dunia. Serangan itu menyebabkan gangguan signifikan pada operasional energi global.
Negara-negara Teluk kini berada dalam posisi rawan. Iran secara terbuka memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan dapat menjadi target berikutnya jika eskalasi terus berlanjut.
Situasi ini memperbesar risiko “perang energi regional”—sebuah skenario di mana fasilitas minyak dan gas menjadi sasaran utama, bukan lagi sekadar objek strategis militer.
Bagi pasar global, implikasinya sangat serius. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di titik ini, ditambah serangan terhadap fasilitas produksi, berpotensi memicu lonjakan harga energi dan krisis pasokan global.
Para analis menilai, konflik kini memasuki fase yang lebih tidak terprediksi. Serangan terhadap infrastruktur sipil berisiko memicu spiral eskalasi yang sulit dikendalikan, sekaligus memperluas konflik ke luar kawasan Timur Tengah.
Dengan demikian, ancaman terhadap pembangkit listrik Iran bukan hanya soal tekanan militer, tetapi juga sinyal bahwa perang ini telah bergeser menjadi pertarungan ekonomi dan energi—dengan dampak yang bisa dirasakan hingga ke seluruh dunia.








