Edukasi

Jejak Ulama-Bangsawan yang Terlupakan di Selatan Garut

×

Jejak Ulama-Bangsawan yang Terlupakan di Selatan Garut

Sebarkan artikel ini
Nisan Al Haj Abdul Karim Bungbulang
Nisan Al Haj Abdul Karim Bungbulang

GARUT – Saya membayangkan pagi di Bungbulang itu sunyi.
Tidak banyak yang berubah.
Angin masih membawa bau tanah.
Pepohonan masih berdiri seperti saksi yang setia.

Yang berubah hanya satu:
kita tidak lagi ingat.

Di sebuah kampung yang sederhana, ada makam tua.
Tidak megah. Tidak pula ramai.
Nyaris tak ada yang berhenti.

Tapi bagi Kang Oos Supyadin, itu bukan makam biasa.
Ia berhenti. Ia membaca. Ia mencatat.

Di batu nisan itu tertulis nama yang tidak pendek:
Al-Hajj Abdul Karim.

Bukan hanya nama.
Ada jabatan di sana:
“Kholifah Landarat Kabupaten Sukapura.”

Saya ulangi: Kholifah Landarat.

Istilah yang hari ini terasa asing.
Tapi pada akhir abad ke-18, itu jabatan penting.

Artinya sederhana—dan justru di situ letak pentingnya:
ia adalah penghubung.
Penghubung antara hukum Islam dan sistem pengadilan kolonial seperti Landraad.

Ia bekerja di antara dua dunia.
Dunia yang sering tidak akur.

Di satu sisi, ada kekuasaan VOC.
Di sisi lain, ada syariat dan masyarakat pribumi.

Tidak banyak orang yang bisa berdiri di tengah seperti itu.
Abdul Karim melakukannya.

Lebih menarik lagi: ia tidak tinggal di pusat kekuasaan.
Ia justru ada di selatan.
Di wilayah yang saat itu belum ramai.
Masih hutan. Masih sunyi. Masih jauh dari pusat Sukapura.

Mengapa?

Pertanyaan itu penting.
Biasanya, orang dengan jabatan akan memilih dekat kekuasaan.
Dekat bupati. Dekat pusat administrasi.

Tapi ini berbeda.
Ada kemungkinan—dan ini sering terjadi dalam sejarah—
ia tidak sekadar pejabat.
Ia juga penyebar ilmu.

Ia datang.
Mengajar.
Membuka pengajian.
Mungkin juga membangun pesantren kecil.

Dari situlah kampung tumbuh.
Dari situlah masyarakat terbentuk.

Bungbulang hari ini terlihat biasa saja.
Tapi dua abad lalu, bisa jadi ini adalah garis depan.
Frontier peradaban.

Tempat di mana hutan mulai berubah menjadi kampung.
Tempat di mana agama mulai mengakar.
Dan di situ, ada satu nama: Abdul Karim.

Lalu, kenapa kita tidak mengenalnya?

Itu pertanyaan yang mengganggu.

Apakah karena ia tidak meninggalkan bangunan besar? Atau karena sejarah kita terlalu sibuk mencatat yang di pusat—dan lupa yang di pinggir?

Kang Oos memulai sesuatu yang penting.
Ia tidak sedang meneliti makam.

Ia sedang membuka pintu.
Pintu ke masa lalu yang lama tertutup.

Dari satu nisan, bisa terbuka banyak cerita:
tentang kekuasaan, tentang agama, tentang migrasi, tentang peradaban.
Dan mungkin juga tentang kita sendiri.

Pertanyaan berikutnya lebih menarik:
apakah keturunannya masih ada?

Kalau ada, mereka mungkin tidak tahu.
Bahwa leluhurnya pernah menjadi jembatan dua dunia.

Sejarah sering begitu.
Ia tidak hilang.
Ia hanya menunggu ditemukan.
Dan sering kali—
ia bersembunyi di tempat yang tidak kita duga.
Seperti di Bungbulang.