TEHERAN – Iran menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan gencatan senjata dan proses damai dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini mengemuka setelah muncul fakta bahwa kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Washington dan Teheran tidak mencakup operasi militer Israel di Lebanon.
Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai kondisi tersebut sebagai pelanggaran mendasar terhadap semangat de-eskalasi. Ia menegaskan, tidak ada dasar untuk melanjutkan negosiasi jika agresi di Lebanon terus berlangsung.
“Iran tidak akan melanjutkan kesepakatan jika pelanggaran terus terjadi, khususnya melalui serangan terhadap Lebanon,” demikian sikap yang berkembang di lingkaran elite Teheran.
Data lapangan menunjukkan, militer Israel tetap melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon, termasuk Beirut dan Bekaa Valley, bahkan hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata.
Situasi ini mempertegas perbedaan tafsir antar pihak. Iran memandang gencatan senjata harus berlaku menyeluruh, termasuk menghentikan operasi terhadap kelompok yang berafiliasi dengannya di Lebanon. Sebaliknya, Israel secara terbuka menyatakan bahwa konflik di Lebanon berada di luar cakupan kesepakatan.
Konsekuensinya, Teheran mulai mengaitkan keberlanjutan kesepakatan dengan kondisi di Lebanon. Bahkan, langkah strategis seperti penutupan kembali jalur energi global di Selat Hormuz disebut sebagai respons atas berlanjutnya serangan Israel.
Secara geopolitik, posisi Iran ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi berdiri dalam satu front, melainkan terhubung dalam satu paket negosiasi regional. Artinya, stabilitas Lebanon kini menjadi variabel kunci dalam relasi Iran-AS-Israel.
Di tengah tekanan global untuk meredakan konflik, kegagalan menghentikan serangan di Lebanon berpotensi menggagalkan seluruh proses diplomasi dan membuka ruang eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah.
Dengan demikian, pesan Teheran menjadi jelas: tidak ada perdamaian parsial. Tanpa penghentian serangan Israel di Lebanon, jalur diplomasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya dinilai kehilangan legitimasi.








