Internasional

Perang dengan Iran Berkepanjangan, Pentagon Minta Anggaran Rp24 Ribu Triliun

×

Perang dengan Iran Berkepanjangan, Pentagon Minta Anggaran Rp24 Ribu Triliun

Sebarkan artikel ini
Pete Hegseth
Menteri Perang AS Pete Hegseth Bicara di Depan Kongres

WASHINGTON – Pemerintahan Presiden Donald Trump melalui Pentagon meminta anggaran militer fantastis sebesar 1,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp24 ribu triliun untuk tahun fiskal mendatang di tengah perang melawan Iran yang terus memanas dan berkepanjangan.

Permintaan anggaran jumbo itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat rapat dengar pendapat di Komite DPR AS di Capitol Hill.

Hegseth menyebut proposal tersebut sebagai “war-fighting budget” atau anggaran tempur untuk memastikan militer Amerika tetap menjadi kekuatan paling mematikan di dunia.

“Setiap anggaran yang kami ajukan ditujukan agar departemen ini tetap fokus meningkatkan daya tempur dan kemampuan bertahan pasukan kami,” kata Hegseth.

Ia menegaskan anggaran itu akan dipakai mempercepat pengadaan jet tempur generasi keenam F-47, penambahan armada kapal perang, serta penguatan industri pertahanan Amerika Serikat.

Proposal itu memicu kontroversi karena nilainya melonjak sekitar 44 persen dibanding anggaran sebelumnya.

Di sisi lain, perang melawan Iran yang telah berlangsung selama 74 hari disebut sudah menghabiskan sedikitnya 29 miliar dolar AS hanya untuk amunisi dan peralatan militer.

Angka tersebut belum termasuk kerusakan pangkalan militer maupun dampak ekonomi lanjutan akibat konflik.

Kalangan Partai Republik mayoritas mendukung langkah Pentagon. Namun anggota Partai Demokrat melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Trump.

Mereka menilai Washington belum transparan soal biaya perang dan justru membebani rakyat Amerika yang tengah tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar dan inflasi.

“Anda menggunakan uang pajak rakyat untuk perang yang banyak ditolak publik, sementara harga bensin terus naik,” kritik salah satu anggota Kongres dari Partai Demokrat dalam sidang tersebut.

Survei Reuters bahkan menunjukkan dua pertiga warga Amerika mengaku terbebani lonjakan harga energi dan mulai meragukan tujuan perang melawan Iran.

Mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik dan Militer, Mark Kimmett, mengatakan Pentagon sebenarnya ingin mengembalikan fokus militer AS sebagai kekuatan tempur penuh.

Menurutnya, peningkatan anggaran bukan semata-mata untuk memperluas perang, melainkan mempercepat kesiapan militer menghadapi ancaman global.

Namun Kimmett juga mengingatkan biaya perang berpotensi jauh lebih besar dari angka resmi Pentagon saat ini.

“Persoalan terbesar Amerika sebenarnya bukan hanya perang, tetapi utang nasional yang sudah mencapai 40 triliun dolar AS,” ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *