MOSKOW – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah seorang jenderal Rusia asal Chechnya menyatakan kesiapan membantu Iran menghadapi Amerika Serikat dan Israel.
Jenderal Apty Alaudinov secara terbuka menyampaikan dukungannya kepada Iran melalui sebuah pernyataan video yang dipublikasikan di kanal Telegram pribadinya.
Dalam pernyataan tersebut, Alaudinov mengaku siap memberikan bantuan penuh, bahkan membawa pasukan Chechnya untuk ikut terlibat dalam konfrontasi langsung melawan Amerika Serikat dan Israel.
“Jika ada keputusan dari pimpinan negara, saya siap berangkat kapan saja untuk membantu Iran menghadapi kemungkinan serangan darat,” ujar Alaudinov dalam pidatonya.
Ia juga memperingatkan bahwa setelah Iran, target berikutnya dari Amerika Serikat berpotensi menyasar Rusia.
Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir negara-negara Barat telah memasok senjata kepada Ukraina untuk digunakan dalam konflik melawan Rusia.
“Selama empat tahun kami menghadapi senjata Amerika dan Eropa yang digunakan untuk menyerang Rusia. Mengapa kami tidak membantu sekutu kami?” tegasnya.
Alaudinov saat ini menjabat sebagai komandan unit pasukan khusus Akhmat yang dibentuk di Chechnya dan dikenal sebagai salah satu pasukan tempur paling berpengalaman di medan perang.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai wakil kepala Direktorat Utama Militer-Politik Angkatan Bersenjata Rusia.
Pasukan Chechnya sendiri dikenal memiliki reputasi tangguh dalam berbagai operasi tempur, termasuk perang gerilya, pertempuran jarak dekat, hingga operasi serangan mendadak ke markas lawan.
Dalam pidatonya, Alaudinov bahkan menyebut konflik yang sedang berlangsung sebagai pertarungan besar antara kekuatan yang ia sebut sebagai “pasukan anti-Kristus” melawan pihak yang menurutnya membela nilai-nilai keimanan.
Ia juga mengajak negara-negara yang menentang dominasi Barat untuk bersatu menghadapi tekanan geopolitik yang semakin meningkat di kawasan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangkaian serangan militer yang melibatkan Iran, Israel, dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.








