LONDON – Seorang jurnalis senior Inggris, Peter Oborne, mengungkap manipulasi narasi media Barat terkait agresi Amerika Serikat-Israel ke Iran. Dalam sebuah video yang dipublikasikan kanal YouTube Double Down News, ia menilai sebagian media arus utama di Inggris berupaya membenarkan perang terhadap Iran dengan cara membangun propaganda yang menyesatkan publik.
Dalam video berjudul “British Journalist Uncover Shocking Iran War Cover-up”, jurnalis Peter Oborne menyebut media Barat berusaha meyakinkan masyarakat bahwa perang melawan Iran merupakan langkah defensif, padahal menurutnya konflik tersebut lebih tepat disebut sebagai agresi.
“Media mencoba meyakinkan publik bahwa perang ini demi kepentingan mereka. Padahal jelas ini adalah perang agresi,” ujar Oborne dalam video tersebut.
Ia membandingkan narasi yang berkembang saat ini dengan propaganda menjelang invasi Irak tahun 2003, ketika pemerintah Inggris di bawah kepemimpinan Tony Blair mengklaim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Klaim itu kemudian terbukti tidak memiliki dasar kuat.
Menurut Oborne, pola serupa kembali muncul dalam pemberitaan konflik Iran. Ia menilai sebagian media menonjolkan ancaman nuklir Iran, tetapi jarang membahas fakta bahwa Israel juga memiliki arsenal nuklir yang tidak berada di bawah pengawasan internasional.
Ia juga menyinggung kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015 di era Presiden AS saat itu, Barack Obama. Menurutnya, Iran mematuhi kesepakatan tersebut hingga Donald Trump memutuskan menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut.
Selain itu, Oborne menyoroti perbedaan cara media melaporkan korban sipil. Ia menyebutkan serangan terhadap sebuah sekolah di Iran yang menewaskan lebih dari 150 orang tidak mendapatkan sorotan besar di media Barat.
“Bayangkan jika ratusan korban itu adalah warga Israel. Itu pasti menjadi berita utama di seluruh dunia,” ujarnya.
Oborne juga mengkritik pemberitaan yang dinilai terlalu memuji kepemimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tanpa menyinggung tuduhan kejahatan perang yang tengah diselidiki oleh International Criminal Court terkait konflik di Gaza.
Menurutnya, media Barat juga jarang menyinggung fatwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang menyatakan bahwa penggunaan senjata nuklir merupakan dosa besar dalam Islam.
Oborne memperingatkan bahwa konflik besar dengan Iran dapat memicu dampak global, mulai dari lonjakan harga minyak hingga potensi resesi ekonomi dunia. Ia juga memperkirakan perang dapat memicu instabilitas politik di Iran yang berpotensi menghasilkan gelombang besar pengungsi.
“Jika perang ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi ekonomi global dan stabilitas politik internasional,” ujarnya.
Di akhir komentarnya, Oborne menilai independensi media sangat penting agar publik mendapatkan informasi yang objektif dan tidak menjadi korban propaganda perang.








