MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menolak bujukan utusan negara-negara Teluk yang mendesak Moskow menekan Iran agar menghentikan serangan ke wilayah negara-negara tetangganya di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Lavrov justru mempertanyakan sikap negara-negara Teluk yang dinilai tidak adil dalam menyikapi konflik. Ia menyinggung absennya kecaman terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang disebut sebagai pemicu utama eskalasi perang.
Menurut Lavrov, pendekatan yang hanya menyalahkan Iran tanpa mengkritik pihak lain justru memperdalam ketegangan dan memecah belah posisi internasional.
“Kami tidak bisa menerima logika di mana tindakan Iran dianggap salah, sementara apa yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak dibahas sama sekali,” tegasnya.
Lavrov juga menyoroti jatuhnya korban sipil akibat konflik tersebut, termasuk lebih dari 100 siswi sekolah yang tewas dalam serangan. Ia menilai tragedi kemanusiaan itu seharusnya mendapat kecaman yang sama dari semua pihak.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, hingga Yordania sebelumnya meminta Rusia memainkan peran lebih besar untuk menekan Iran demi meredakan konflik kawasan.
Namun Lavrov menilai sikap tersebut tidak konsisten jika tidak diiringi kritik terhadap tindakan militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv.
Ia secara tidak langsung meminta negara-negara Teluk untuk “bercermin” dan mengambil posisi yang lebih adil serta seimbang dalam merespons konflik.
Rusia, lanjut Lavrov, mendorong solusi komprehensif melalui penghentian seluruh aksi militer tanpa pengecualian, serta menyerukan komunitas internasional untuk bersatu menghentikan perang yang telah menelan banyak korban jiwa dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah. –
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menolak permintaan utusan negara-negara Teluk yang mendesak Moskow menekan Iran agar menghentikan serangan ke wilayah negara-negara tetangganya di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Lavrov justru mempertanyakan sikap negara-negara Teluk yang dinilai tidak adil dalam menyikapi konflik. Ia menyinggung absennya kecaman terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang disebut sebagai pemicu utama eskalasi perang.
Menurut Lavrov, pendekatan yang hanya menyalahkan Iran tanpa mengkritik pihak lain justru memperdalam ketegangan dan memecah belah posisi internasional.
“Kami tidak bisa menerima logika di mana tindakan Iran dianggap salah, sementara apa yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak dibahas sama sekali,” tegasnya.
Lavrov juga menyoroti jatuhnya korban sipil akibat konflik tersebut, termasuk lebih dari 100 siswi sekolah yang tewas dalam serangan. Ia menilai tragedi kemanusiaan itu seharusnya mendapat kecaman yang sama dari semua pihak.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, hingga Yordania sebelumnya meminta Rusia memainkan peran lebih besar untuk menekan Iran demi meredakan konflik kawasan.
Namun Lavrov menilai sikap tersebut tidak konsisten jika tidak diiringi kritik terhadap tindakan militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv.
Ia secara tidak langsung meminta negara-negara Teluk untuk “bercermin” dan mengambil posisi yang lebih adil serta seimbang dalam merespons konflik.
Rusia, lanjut Lavrov, mendorong solusi komprehensif melalui penghentian seluruh aksi militer tanpa pengecualian, serta menyerukan komunitas internasional untuk bersatu menghentikan perang yang telah menelan banyak korban jiwa dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.








