Internasional

Tantrum Donald Trump Makin Menjadi, Serang Sekutu NATO Tak Bantu di Hormuz

×

Tantrum Donald Trump Makin Menjadi, Serang Sekutu NATO Tak Bantu di Hormuz

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

WASHINGTON — Tantrum Presiden Donald Trump makin menjadi menghadapi dampak perang yang dia nulai dengan Iran. Kini, Trump melontarkan kritik keras terhadap sekutu tradisionalnya di tengah meningkatnya tensi di Selat Hormuz.

Dalam pernyataan yang memicu kontroversi, Trump menyebut aliansi NATO sebagai “macan kertas” dan menuding negara-negara Eropa serta Jepang tidak menunjukkan komitmen nyata dalam membantu pengamanan jalur energi vital tersebut.

Trump menilai sekutu hanya mengeluhkan lonjakan harga minyak, tetapi enggan terlibat langsung dalam menjaga stabilitas kawasan.

“Banyak yang mengeluh soal harga minyak, tapi tidak mau membantu,” sindirnya melalui media sosial.

Pernyataan keras itu dinilai sebagai upaya menekan sekutu agar lebih aktif dalam operasi di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi global yang kini berada di bawah ancaman eskalasi konflik.

Meski demikian, tekanan tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil. Inggris dilaporkan baru menyetujui penggunaan pangkalan militernya oleh Amerika Serikat, namun langkah itu pun belum memuaskan Trump.

Situasi ini mencerminkan ketegangan internal di antara negara-negara Barat di tengah konflik yang juga tidak populer di dalam negeri AS.

Sejumlah survei menunjukkan mayoritas publik Amerika tidak mendukung keterlibatan lebih jauh dalam konflik tersebut, menempatkan Trump dalam posisi politik yang sulit.

Di sisi lain, ketidakpastian juga meningkat terkait situasi internal Iran. Laporan menyebut pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, mengalami cedera, meski belum ada konfirmasi resmi yang jelas mengenai kondisi dan struktur kepemimpinan saat ini.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa yang kini memegang kendali di Teheran.

Ketidakjelasan ini menambah kompleksitas konflik, di mana Amerika Serikat menyatakan tidak menargetkan perubahan rezim, namun tetap membutuhkan kepastian tentang pihak yang diajak bernegosiasi.

Dengan retorika yang semakin keras dan koordinasi sekutu yang melemah, situasi di sekitar Selat Hormuz berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih luas, baik secara militer maupun ekonomi global. (Sumber: Al Jazeera)