Internasional

Cara Cerdas Iran Menang Perang Lawan AS-Israel

×

Cara Cerdas Iran Menang Perang Lawan AS-Israel

Sebarkan artikel ini
Khamenei
Mojtaba Khamenei bersama Ayatollah Ali Khamenei

DOHA – Konflik antara Amerika Serikat yang dibantu Israel melawan Iran kian menunjukkan kompleksitas tinggi. Iran menjalankan strategi cerdas. Di balik serangan militer terbuka, Teheran memainkan strategi jangka panjang yang dinilai sulit diimbangi Washington dan Tel Aviv.

Pengamat Timur Tengah dari Middle East Institute, Ross Harrison, menyebut Iran tidak bertarung secara konvensional. Negeri itu mengandalkan strategi “difusi kekuatan” yang telah dibangun sejak pasca Perang Iran-Irak.

“Iran menyebarkan pengaruhnya melalui jaringan regional seperti di Suriah, Lebanon, Irak, hingga Yaman. Ini membuat mereka menjadi target yang sulit dipukul secara langsung,” ujarnya.

Melalui jaringan seperti milisi regional dan kelompok proksi, Iran menciptakan tekanan di berbagai titik sekaligus. Strategi ini tidak bertujuan mengalahkan AS-Israel secara militer, melainkan menaikkan biaya politik dan ekonomi bagi Washington dan Tel Aviv.

Salah satu kunci tekanan itu adalah pengaruh Iran di jalur energi global seperti Selat Hormuz. Gangguan di kawasan ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia—yang secara langsung berdampak pada ekonomi global, termasuk domestik AS.

Sementara itu, analis militer Harlan Ullman menilai Iran justru memiliki keunggulan dalam hal tujuan politik perang.

“Iran punya endgame yang jelas: menekan Donald Trump secara politik. Sementara AS kehilangan arah setelah target awal seperti perubahan rezim tidak tercapai,” ungkapnya.

Data biaya perang memperkuat tekanan tersebut. Dalam enam hari pertama konflik saja, Pentagon dilaporkan menghabiskan lebih dari USD 11 miliar. Total biaya intersepsi rudal dan drone mencapai USD 26 miliar dalam 16 hari.

Selain itu, AS telah meluncurkan sedikitnya 850 rudal Tomahawk dengan biaya lebih dari USD 3 miliar. Angka ini belum termasuk kerugian personel, dengan puluhan korban jiwa dan ratusan luka di pihak militer AS.

Situasi ini menempatkan Washington dalam dilema: melanjutkan perang dengan biaya tinggi tanpa hasil pasti, atau mencari jalan diplomasi di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat.

Di sisi lain, Iran terus memainkan “perang asimetris”—menghindari konfrontasi langsung sambil memperluas tekanan di berbagai front.

Dengan kombinasi strategi militer, ekonomi, dan diplomasi, konflik ini diperkirakan masih jauh dari titik akhir. Yang jelas, perang tidak lagi sekadar soal kekuatan senjata, tetapi juga soal daya tahan politik dan ekonomi di kedua belah pihak. (Sumber : Al Jazeera)