BARCELONA — Ketegangan antara Spanyol dan Amerika Serikat kian mengeras menyusul keputusan Madrid menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam operasi serangan ke Iran. Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam keretakan hubungan kedua negara terkait perang yang juga melibatkan Israel.
Pemerintah Spanyol secara tegas menyatakan tidak akan terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam konflik tersebut. Menteri Pertahanan Margarita Robles menegaskan bahwa sejak awal pihaknya telah melarang penggunaan pangkalan militer bersama maupun wilayah udara Spanyol untuk mendukung operasi militer AS.
“Kami menolak perang ini. Tidak ada otorisasi penggunaan pangkalan maupun wilayah udara untuk operasi apa pun terkait konflik di Iran,” tegas Robles.
Sikap keras ini sejalan dengan garis politik Perdana Menteri Pedro Sánchez yang sejak awal menjadi salah satu pemimpin Eropa paling vokal menentang operasi militer AS-Israel. Sánchez bahkan menyebut kampanye militer tersebut sebagai tindakan “ceroboh dan melanggar hukum internasional”.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump merespons keras langkah Madrid. Ia sempat mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol. Namun, Gedung Putih belakangan menyatakan bahwa Washington tidak bergantung pada dukungan Madrid dalam operasi militernya.
Koresponden di Barcelona menyebut keputusan ini bukanlah kejutan bagi publik Spanyol. Sikap anti-perang telah menguat dalam beberapa pekan terakhir dan mendapat dukungan luas dari masyarakat domestik.
Selain pertimbangan prinsip hukum internasional, dinamika politik dalam negeri juga menjadi faktor pendorong. Pemerintahan Sánchez menghadapi agenda pemilu dalam waktu dekat, sehingga sikap tegas di panggung global dinilai mampu memperkuat citra kepemimpinan di mata pemilih yang mayoritas menolak perang.
Dari sisi militer, keputusan Spanyol berdampak langsung pada logistik operasi AS. Penutupan wilayah udara dan larangan penggunaan pangkalan membuat jalur penerbangan militer menjadi lebih panjang dan kompleks, meningkatkan kebutuhan bahan bakar serta memperlambat mobilisasi pasukan.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai langkah Spanyol tidak akan secara signifikan mengubah jalannya konflik. Dampaknya lebih bersifat simbolik dan politis, yakni menunjukkan adanya perpecahan di antara sekutu Barat dalam menyikapi perang.
Ancaman pemutusan hubungan ekonomi dari Washington pun dinilai sulit direalisasikan. Sebagai bagian dari Uni Eropa, Spanyol berada dalam kerangka kebijakan perdagangan kolektif. Selain itu, hubungan ekonomi kedua negara masih saling bergantung, terutama dalam sektor energi.
Di dalam negeri, langkah pemerintah justru menuai kebanggaan dari sebagian masyarakat. Banyak warga melihat keputusan ini sebagai bentuk kedaulatan politik dan komitmen terhadap prinsip perdamaian.
Dengan posisi tegas ini, Spanyol menempatkan diri bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai aktor yang mencoba memberi tekanan moral di tengah konflik yang terus meluas. Namun di tengah dinamika geopolitik global, pertanyaan besarnya tetap sama: sejauh mana sikap politik dapat mengubah arah perang yang sudah terlanjur membesar. (Sumber : DWnews)








