Internasional

Bahrain Bergejolak Terimbas Perang Iran Melawan AS-Israel

×

Bahrain Bergejolak Terimbas Perang Iran Melawan AS-Israel

Sebarkan artikel ini
Bahrain Rusuh
Bahrain Rusuh, rakyatnya protes turun ke jalan menentang keberadaan Pangkalan AS

MANAMA — Gelombang protes kembali mengguncang Bahrain dalam beberapa pekan terakhir. Massa turun ke jalan meneriakkan penolakan terhadap pemerintah, sementara aparat merespons dengan gas air mata dan penangkapan massal.

Situasi ini mencerminkan eskalasi ketegangan domestik yang dipicu konflik regional, khususnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya.

Berbeda dengan negara Teluk lain, Bahrain menjadi satu-satunya yang mengalami gejolak internal signifikan akibat serangan balasan Iran terhadap target-target di kawasan, termasuk pangkalan militer asing.

Secara historis, dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial-politik Bahrain. Mayoritas penduduknya merupakan Muslim Syiah, sementara kekuasaan dipegang oleh keluarga Sunni Dinasti Al Khalifa sejak 1783.

Ketimpangan ini telah lama menjadi sumber ketegangan. Kelompok oposisi menuding adanya diskriminasi sistemik, pembatasan hak politik, serta pendekatan represif terhadap kritik.

Aktivis HAM Bahrain Maryam Al-Khawaja menyebut protes saat ini bukan fenomena baru, melainkan kelanjutan dari resistensi panjang terhadap kekuasaan dan kehadiran militer asing.

“Ketegangan antara rakyat dan pemerintah sudah berlangsung lama. Perang Iran hanya mempercepat ledakan situasi yang sebenarnya sudah ada,” ujarnya.

Keberadaan pangkalan militer Angkatan Laut Amerika Serikat Armada Kelima dengan sekitar 9.000 personel di Bahrain menjadi faktor sensitif. Bagi sebagian warga, kehadiran ini dianggap simbol intervensi asing yang memperkuat legitimasi rezim.

Serangan Iran ke sejumlah titik strategis di Teluk, termasuk wilayah Bahrain, semakin menempatkan negara kecil itu dalam pusaran konflik geopolitik.

Pemerintah Bahrain merespons protes dengan narasi keamanan, menuding adanya keterlibatan pihak luar, termasuk Iran, dalam memicu kerusuhan. Namun tudingan tersebut dibantah oleh sejumlah aktivis yang menilai pemerintah kerap menggunakan label “agen asing” untuk membungkam oposisi.

Secara ekonomi, tekanan juga kian terasa. Sebelum konflik memanas, kondisi ekonomi Bahrain sudah berada dalam tekanan. Perang yang berkepanjangan berpotensi memperburuk situasi melalui lonjakan harga energi dan ketidakpastian investasi.

Meski demikian, analis menilai konteks Bahrain relatif unik dibanding negara Teluk lain. Komposisi demografis, sejarah politik, serta hubungan dengan kekuatan Barat membuat potensi gejolak lebih besar.

Dengan eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, Bahrain kini menghadapi dua tekanan sekaligus: gejolak internal yang membesar dan tekanan eksternal akibat rivalitas kekuatan besar di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *