Politik dan Pemerintahan

Panembahan Girilaya, Raja Cirebon yang “Wafat” di Mataram

×

Panembahan Girilaya, Raja Cirebon yang “Wafat” di Mataram

Sebarkan artikel ini
Panembahan Girilaya
Panembahan Girilaya, Raja Cirebon yang “Hilang” di Mataram

CIREBON – Sejarah kadang tidak runtuh karena perang atau perebutan kekuasaan.

Ia runtuh karena salah membaca silsilah. Salah menghitung tahun. Salah memahami hubungan kekuasaan.

Dan itu terjadi pada kisah Panembahan Girilaya.

Tokoh ini selama ratusan tahun dikenal sebagai Sultan Cirebon yang menikahi putri Amangkurat I, lalu ditahan di Mataram bersama dua putranya hingga wafat di Keraton Solo yg skrg kita kenal.

Cerita itu sudah sangat populer.

Masuk buku. Masuk tutur keraton. Masuk percakapan sejarah masyarakat pesisir Sunda.

Tetapi ketika akademisi dan tokoh budaya Jawa Barat, RR Okki Jusuf Judanagara mulai “mengeja ulang” data sejarah Cirebon-Mataram, muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat dahi berkerut.

“Sejarah itu tidak cukup diwariskan. Ia harus diuji dengan logika, kronologi, dan keberanian membaca ulang,” ujar RR Okki Jusuf Judanagara.

Kalimat itu terasa sederhana.

Tetapi dampaknya besar.

Ada masalah pada hitungan tahun.

Panembahan Girilaya diperkirakan lahir sekitar 1601. Ia disebut menikah dengan putri Amangkurat I sebelum atau sekitar 1650.

Padahal Amangkurat I sendiri baru naik takhta setelah wafatnya Sultan Agung pada 1645. Ia juga baru menikah dengan putri Pangeran Pekik Surabaya pada 1643.

Pertanyaannya sederhana: jika pada 1650 Panembahan Girilaya sudah memiliki putra-putra yang dianggap remaja, mungkinkah ibu mereka adalah putri Amangkurat I ?

“Kalau dihitung secara kronologis, muncul ketidakcocokan usia dan generasi. Di sinilah sejarah perlu dibaca lebih hati-hati,” kata RR Okki.

Dari sinilah sejarah Cirebon menjadi menarik.

Dan cukup rumit.

Panembahan Girilaya hidup pada masa paling sulit di Kesultanan Cirebon.

Di Barat berdiri Kesultanan Banten yang sedang kuat di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Di Timur berdiri Mataram yang sedang memperluas pengaruh politiknya ke tanah Sunda dan pesisir utara Jawa.

Cirebon terjepit.

Sebagai kerajaan pelabuhan dan pusat dakwah warisan Sunan Gunung Jati, Cirebon memiliki posisi strategis. Siapa menguasai Cirebon, akan punya pengaruh besar di jalur perdagangan Utara Jawa.

Menurut RR Okki, posisi Panembahan Girilaya sebenarnya bukan sekadar raja kecil daerah.

Ia adalah simbol penting pertemuan politik Sunda dan Jawa Islam.

“Cirebon itu gerbang budaya. Di sana bertemu tradisi Sunda, Jawa, Arab, dan pesisir. Karena itu perebutan pengaruh terhadap Cirebon sangat kuat,” ujarnya.

Akibatnya, Girilaya harus bermain dalam diplomasi yang rumit dan melelahkan.

Terlalu dekat ke Mataram membuat Banten curiga. Terlalu dekat ke Banten membuat Mataram marah.

Politik akhirnya berubah menjadi jebakan keluarga.

Yang lebih menarik, kata RR Okki, adalah banyaknya versi sejarah yang selama ini diterima begitu saja tanpa pengujian kritis.

Misalnya tentang penahanan Panembahan Girilaya di Mataram pada 1650 bersama Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya. Menurut cerita penyebabnya karena Girilaya tak mau tunduk kepada VOC, sehingga harus “disadarkan” oleh mertuanya Raja Mataram.

Jika benar kedua putra itu sudah cukup besar saat ditahan, maka usia mereka jelas lebih tua dibanding kemungkinan usia putri Amangkurat I yang disebut menjadi ibu mereka, maka kemungkinan yg paling besar ibu mereka adalah putri dari Sultan Agung bukan Amangkurat I !

Di sinilah muncul dugaan adanya kekeliruan salah tafsir sejarah.

Bisa jadi yang menikah dengan keluarga Mataram bukan Girilaya dengan putri Amangkurat I. Bisa juga ada percampuran nama generasi dalam penulisan sejarah keraton, ini perlu dikaji ulang.

“Dalam tradisi penulisan lama, sering terjadi penggabungan cerita antar generasi. Karena itu penting memilah mana fakta sejarah dan mana opini atau tafsir yang berkembang kemudian,” tutur RR Okki.

Setelah Girilaya wafat muncul persoalan baru, siapa yang akan menjadi Raja Cirebon berikutnya ? Menurut cerita yang ada, Sultan Ageng Tirtayasa datang ke Mataram untuk menebus 2 kemenakannya yang masih ditahan oleh kakeknya, Sultan Agung Mataram.

Tetapi di balik silang sengkarut silsilah itu, jasa Panembahan Girilaya tetap besar bagi masyarakat Sunda.

Ia menjaga eksistensi Cirebon di tengah tekanan dua kekuatan besar. Ia menjadi penghubung penting antara tradisi Islam pesisir dengan politik Mataram. Dari keturunannya lahir Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman yang hingga kini masih menjadi bagian penting identitas budaya Cirebon.

Meski begitu, perpecahan yang lahir setelah wafatnya Girilaya menjadi pelajaran mahal.

Cirebon pecah.

Kekuatan politiknya melemah.

VOC masuk.

Dan sejak itu pengaruh keraton perlahan menyusut.

Menurut RR Okki, orang Sunda hari ini perlu membaca sejarah Girilaya bukan hanya sebagai kisah kerajaan, tetapi sebagai pelajaran tentang pentingnya persatuan dan kemandirian politik.

“Kalau elite tercerai-berai, maka pihak luar akan mudah masuk. Itu pelajaran penting dari sejarah Cirebon,” katanya.

Panembahan Girilaya akhirnya wafat di tanah Mataram dengan meninggalkan tanda tanya : Apa yang terjadi padanya ?

Makamnya berada di Girilaya, dekat kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, bahkan ketinggiannya disejajarkan dengan makam Sultan Agung.

Sebuah simbol yang terasa ironis.

Raja besar Cirebon justru dimakamkan jauh dari tanah kerajaannya sendiri.

Tetapi mungkin justru di situlah sejarah sedang berbicara.

Bahwa kekuasaan bisa berpindah. Kerajaan bisa pecah. Tafsir sejarah bisa berubah.

Namun warisan peradaban tetap tinggal.

Dan Panembahan Girilaya adalah salah satu jejak pentingnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *