BANDUNG – Di sebuah sudut hangat Jalan Laswi 1/D, Kota Bandung, riuh rendah tawa khas remaja mendadak luruh menjadi keheningan yang sarat makna. Hari itu, Kamis, 24 Juni 2026, Sekretariat Command Center Teh Aanya tidak sekadar menerima kunjungan biasa.
Ruangan tersebut bertransformasi menjadi oase pembelajaran bagi siswa-siswi Pramuka Pandu Dewanata dan Dewi Kunti Nalibrata dari Basis SMKN 10 Kota Bandung. Di sana, mereka tidak hanya belajar tentang struktur birokrasi, melainkan tentang arti sejati dari sebuah kemanusiaan.
Aanya Rina Casmayanti, S.E., Anggota DPD RI Komite I yang akrab disapa Teh Aanya, berdiri anggun di depan kelas mini itu. Alih-alih menyampaikan pidato politik yang kaku, ia memilih berbicara dari hati ke hati. Pertemuan itu dibukanya dengan mengenalkan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) DPD RI, sebelum beralih memperkenalkan “senjata” interaktifnya: Hotline Command Center. Sebuah fasilitas pengaduan warga yang didedikasikan untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Atmosfer ruangan kian bergetar saat Teh Aanya membagikan sebuah kisah nyata yang baru saja dihadapinya. “Terbaru, saya menerima aduan kasus penganiayaan Yufita di Rancaekek. Saya langsung menemui korban di rumah sakit,” ungkapnya dengan nada suara yang bergetar menahan geram.
Sebagai seorang wanita dan ibu, nuraninya terkoyak melihat kesadisan yang menimpa korban. Langkah konkret pun langsung diambil; mulai dari menyusun kronologi hukum, memberikan dukungan moril, hingga menggandeng lembaga ‘Rumah Teduh’ untuk menggalang donasi.
“Kita buka nominal terkecil, mulai dari lima ribu rupiah. Tujuannya apa? Agar adik-adik yang masih sekolah pun bisa ikut memupuk rasa empati,” jelas Teh Aanya sembari menggerakkan tangannya, mengajak para siswa melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian kecil.
Sesi kemudian menukik pada persoalan yang paling dekat dengan dunia remaja: anti-bullying di sekolah. Di bawah sorot layar Command Center yang menampilkan materi bahaya perundungan, para siswa tampak terpaku. Mereka diajak memetakan luka-luka tak kasatmata yang dihasilkan oleh bullying—mulai dari runtuhnya prestasi akademik, isolasi sosial, hingga trauma psikologis yang mendalam.
Teh Aanya menggarisbawahi satu pesan kuat: mereka yang diam dan membiarkan perundungan terjadi di depan mata, sejatinya sedang ikut memupuk kejahatan itu sendiri.
Melalui edukasi ini, Command Center Teh Aanya tidak lagi hanya dipandang sebagai deretan layar monitor pengawas kota, melainkan simbol perlindungan dan ruang aman bagi siapa saja yang terintimidasi.
Pertemuan siang itu pun ditutup di depan selasar sekretariat. Di bawah langit Bandung, Teh Aanya bersama para penerus bangsa itu berdiri berbaur, melemparkan senyum merekah, dan serentak menyatukan jemari membentuk simbol hati.
Sebuah potret sederhana namun sarat pesan kuat: bahwa ketertiban kota tidak hanya dijaga dengan hukum yang tegas, tetapi harus dipupuk melalui sanubari muda yang berani bersuara, berani melapor, dan menolak untuk tidak peduli. STOP BULLYING! Dari Laswi, sebuah komitmen kemanusiaan telah resmi dideklarasikan.








