Edukasi

Cangkuang: Saat Siwa Abad 8 Bertemu Makam Mataram 1628

×

Cangkuang: Saat Siwa Abad 8 Bertemu Makam Mataram 1628

Sebarkan artikel ini
Candi Cangkuang
Di satu gundukan tanah Cangkuang, dua zaman berpelukan. Ada Candi Siwa dari abad 8, dan ada makam prajurit Mataram tahun 1628.

GARUT – Di satu gundukan tanah Cangkuang, dua zaman berpelukan. Ada Candi Siwa dari abad 8, dan ada makam prajurit Mataram tahun 1628. Beda agama, beda abad, tapi satu lokasi. Itulah Indonesia.

Candi Cangkuang ditemukan kembali 9 Desember 1966 oleh tim Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Sebelumnya nama Leles sudah ditulis Belanda. Vorderman mencatat “makam kuno dan arca rusak” di Notulen Bataviaasch Genotschap 1893.

Kedua situs itu tak lepas dari pengamatan Kang Oos Supyadin seorang budayawan Garut Selatan. Dia selalu bisa melihat lebih tajam dan lebih mendalam tentang suatu fenomena budaya.

Arca itu Dewa Siwa. Rusak saat ditemukan, kini diamankan di candi yang dipugar 1974–1976. Candi Cangkuang diduga dibangun era Kerajaan Kendan, abad ke-6. Pendirinya Resi Maha Guru Manikmaya dari Salankayana India Selatan, menantu Prabu Suryawarman Tarumanagara. Ini jejak Hindu Siwa di jantung Pasundan.

Di ungkapkan Kang Oos, Jaman berubah saat datang abad ke-17. Berdampingan dengan candi, muncul makam Arif Muhammad. Konon prajurit Mataram yang tak pulang usai gagal serbu VOC Batavia 1628. Takut dihukum Sultan Agung, ia menetap. Menanggalkan seragam, jadi petani. Kawin dengan orang setempat.

Dari sinilah lahir Kampung Pulo. Makam Arif Muhammad jadi cikal bakalnya. Sezaman dengannya ada Sunan Pangadegan dari Timbanganten. Wilayah Cangkuang Leles masuk ke sana.

Menariknya, kata Kang Oos, arca Siwa ditemukan dalam kondisi rusak. Kang Oos Supyadin menduga itu bukan kebetulan. Bisa jadi simbol masuknya Islam. Sama seperti catatan Vorderman 1893: ada makam dan arca rusak di Leles. Dua tanda zaman dalam satu kalimat.

Hari ini Candi Cangkuang berdiri utuh. Di sebelahnya, makam Mataram dijaga adat Kampung Pulo. Hindu dan Islam, Majapahitan dan Mataraman, bersanding tanpa ribut.

Kita tidak sedang bicara konflik agama. Kita bicara lapisan sejarah. Lapisan yang saling menimpa, saling menutupi, tapi tidak saling menghapus.

Jika Kendan benar berdiri 536 M, maka Cangkuang lebih tua dari Borobudur. Jika Arif Muhammad benar datang 1628, maka ia datang 1100 tahun kemudian. Jaraknya jauh. Maknanya dekat: tanah ini selalu jadi tempat singgah peradaban.

Maka jangan tanya siapa yang paling dulu. Tanyalah: apa yang kita jaga hari ini?