Oleh : Kang Oos Supyadin, Pemerhati Kebijakan Publik | Pengurus FKP DAS Korwil Garut | Dewan Adat Kabupaten Garut | Koordinator MASDA Jabar Kabupaten Garut
KITA semua tahu Ismail Marzuki. Bapak Lagu Nasional. Pencipta Rayuan Pulau Kelapa, Halo-Halo Bandung, dan tentu saja, Panon Hideung. Tapi, jarang yang benar-benar menelisik siapa wanita di balik lagu-lagu romantis itu. Siapa Eulis Zourida?
Buku “Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman” karya Ninok Leksnono membuka tabir itu. Ternyata, cinta mereka bukan cerita love at first sight. Justru sebaliknya. Awalnya, Eulis sangat menolak Ismail.
Bayangkan suasana akhir 1920-an di Bandung. Ismail baru bergabung dengan grup musik keroncong-orkes tempat Eulis bernyanyi. Setiap kali Eulis bertanya, “Ada si Ismail nggak?” dan dijawab “Ada”, responsnya ketus: “Ah, aku nggak mau nyanyi kalau ada dia.”
Penolakan itu bukan tanpa alasan. Orang tua Eulis pun khawatir. Ismail orang Jakarta. Ada stigma waktu itu: perempuan Sunda yang menikah dengan orang Jakarta dituntut serba bisa urusan rumah tangga. Padahal, Eulis hanya piawai bermusik. Ia berbeda dari kebanyakan perempuan masa itu.
Lalu, apa yang meluluhkan hati Neng Eulis? Bukan rayuan gombal. Bukan janji manis. Tapi sebuah momen kemanusiaan yang sederhana namun mendalam di atas kapal laut menuju Singapura pada dekade 1930-an.
Eulis mabuk laut. Mual. Muntah. Di tengah kekacauan itu, Ismail tidak jijik. Ia mengeluarkan sapu tangannya—benda paling pribadi saat itu—untuk mengelap dan menadahkan muntahan Eulis. Ia memijat kepala dan tengkuk gadis itu hingga nyerinya reda.
Momen di dek kapal itulah yang mengubah segalanya. Eulis luluh. Bukan karena Ismail hebat bermusik, tapi karena Ismail hadir sebagai manusia yang peduli. Mereka pun berpacaran selama tiga tahun sebelum akhirnya menikah.
Uniknya, lagu Panon Hideung—yang sebenarnya saduran dari Dark Eyes karya penyair Rusia Ruskykorsov—menjadi jurus peluluh hati. Lagu ini sudah ada sejak 1920-an, populer di kalangan pemuda Bandung bahkan sebelum era 1990-an. Ismail, yang sejak kecil mengagumi lagu ini, menggunakannya untuk meminang Eulis.
Panon Hideung bukan sekadar lagu tentang mata hitam, pipi kuning, dan hidung mancung. Itu adalah simbol penerimaan. Simbol bahwa cinta sejati seringkali lahir dari ketulusan melayani, bukan dari gengsi atau status.
Eulis Zourida lahir di Dayeuhkolot, 17 April 1917, dan wafat di Jakarta, 8 Agustus 2001. Ia pergi tiga tahun sebelum Ismail ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Namun, warisan terbesarnya bukan hanya sebagai istri pahlawan, tapi sebagai muse yang membuktikan: cinta itu sederhana. Cukup jadi ada, saat yang lain pergi.




