JAKARTA – Dunia pendidikan tinggi tanah air mendadak gempar usai gelombang penyergapan melanda Universitas Jenderal Soedirman. Tindakan tegas melalui OTT KPK ini langsung menyeret sang pucuk pimpinan perguruan tinggi negeri tersebut, yakni Rektor Unsoed Ahmad Sodiki.
Langkah senyap penyidik tersebut dilakukan secara serentak di dua lokasi berbeda, yakni Purwokerto dan Jakarta. Dari rangkaian penindakan itu, tim berhasil mengamankan total 14 orang, termasuk figur utama Rektor Unsoed bersama dua orang wakil rektornya. Pengamanan intensif dari OTT KPK ini menjadi sorotan luas publik karena menyasar pimpinan akademis.
“Tim mengamankan sejumlah 14 orang. 12 orang di antaranya diamankan di Purwokerto dan 2 orang lainnya diamankan di Jakarta,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).
Pemeriksaan tertutup tersebut berkaitan erat dengan dugaan praktik penerimaan suap atau gratifikasi dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Pihak lembaga antirasuah sangat menyayangkan kasus dugaan OTT KPK ini bisa menjangkau ranah pendidikan tinggi. Padahal, peran Rektor Unsoed seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas serta penanaman nilai moral mahasiswa.
“KPK menyayangkan dugaan korupsi terjadi di sektor pendidikan karena dapat berpengaruh besar terhadap penanaman nilai dan karakter,” tegas Budi Prasetyo.
Dari total belasan pihak yang diamankan, sebanyak dua orang langsung menjalani pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih Jakarta, sementara sisanya sempat menjalani pemeriksaan awal di Polres Banyumas. Saat ini, sebanyak sembilan orang termasuk Rektor Unsoed masih berstatus terperiksa dan terus digali keterangannya dalam tahap penyelidikan OTT KPK.





