Ekonomi

Prof Emil Salim Dukung Garut Jadi Kota Ekowisata Berbasis Budaya

×

Prof Emil Salim Dukung Garut Jadi Kota Ekowisata Berbasis Budaya

Sebarkan artikel ini
Tokoh Nasional Prof Emil Salim
Tokoh Nasional Prof Emil Salim Dukung Ekowisata Garut

Tokoh nasional Indonesia, Prof. Emil Salim, menyatakan dukungannya terhadap pembangunan ekosistem ekowisata (ecotourism) di Kabupaten Garut. Dukungan tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Fiazza Firenze, Kecamatan Garut Kota, yang turut dihadiri langsung oleh Bupati Garut Abdusy Syakur Amin.

Kehadiran Prof. Emil Salim menjadi penegasan bahwa Kabupaten Garut memiliki modal kuat untuk berkembang sebagai destinasi ekowisata berbasis alam, budaya, dan ekonomi kreatif.

Prof. Emil Salim menilai wilayah Priangan, khususnya Kabupaten Garut, dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa serta kreativitas lokal yang tinggi. Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya indah secara visual, tetapi juga bernilai ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan. Ia menyoroti kemampuan perajin lokal dalam mengolah kulit menjadi produk bernilai seni tinggi seperti tas, pakaian, dan aksesori khas Garut.

“Di sinilah keunikan Priangan. Kreativitas ini tumbuh dari masyarakatnya, dan tidak mudah ditemukan secara masif di daerah lain,” ungkap Prof. Emil Salim.

Prof. Emil Salim ke Kabupaten Garut
Prof. Emil Salim ke Kabupaten Garut

 

Peran Ekonomi Kreatif dalam Ekowisata

Ia juga mengapresiasi peran Poppy Dharsono, pendiri Yayasan Poppy Dharsono sekaligus Ketua Koperasi Artisan Kulit Indonesia, yang dinilai berhasil menjembatani kreativitas lokal dengan pasar nasional dan internasional.

Menurut Prof. Emil Salim, keberhasilan ekowisata bukan hanya bertumpu pada alam, tetapi juga pada manusia yang mampu mengelola dan mengemas potensi daerah secara berkelanjutan.

“Ekowisata lahir ketika alam, budaya, dan kreativitas dipertemukan oleh orang-orang yang visioner,” ujarnya.

Konsep Ekowisata dan Contoh Sukses di Indonesia

Ekowisata merupakan konsep pariwisata berkelanjutan yang menekankan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan edukasi budaya. Di Indonesia, konsep ini telah sukses diterapkan di beberapa daerah, seperti Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta, Penglipuran di Bali, serta Desa Wisata Sade di Lombok, yang mampu meningkatkan ekonomi warga tanpa merusak alam dan nilai tradisi.

Garut dinilai memiliki peluang serupa dengan kombinasi lanskap alam, industri kulit, serta kekayaan budaya Sunda.

Garut Menuju Ecotourism City

Poppy Dharsono mengungkapkan bahwa proses membangun pusat fashion berbahan kulit di Garut bukanlah hal mudah. Namun, upaya tersebut telah melahirkan UKM-UKM berkualitas yang memiliki nilai tambah dan diminati pasar global. Ia menegaskan bahwa Garut layak dikembangkan sebagai Ecotourism City, di mana wisata belanja, budaya, dan alam berjalan beriringan.

Dalam dua tahun ke depan, Poppy berharap akan ada capaian nyata yang bisa dipersembahkan untuk Kabupaten Garut sebagai contoh ekowisata modern berbasis kearifan lokal.