KARAWANG — Angka anak tidak sekolah (ATS) di Karawang masih tinggi. Hingga April 2026, tercatat 29.181 anak usia 6–15 tahun belum mengenyam pendidikan.
Masalah ini bukan sekadar statistik. Ini alarm serius bagi dunia pendidikan daerah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karawang pun mulai bergerak. Anggaran Rp4,9 miliar disiapkan setiap tahun.
Targetnya, 3.072 anak bisa kembali mengakses pendidikan. Kepala Disdikbud Karawang, Wawan Setiawan Natakusumah, menyebut ATS menjadi indikator penting dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Ini jadi perhatian serius pemerintah daerah,” tegasnya, Senin (27/4/2026).
Anggaran tersebut tidak kecil. Tapi kebutuhan di lapangan jauh lebih kompleks. Dana digunakan untuk seragam, biaya sekolah, hingga pelatihan keterampilan.
Termasuk jalur pendidikan nonformal seperti Paket A, B, dan C.
Akar masalahnya klasik. Ekonomi masih jadi faktor utama. Namun bukan satu-satunya. Perceraian orang tua hingga anak harus bekerja juga ikut menyumbang angka ATS.
“Faktor keluarga juga berpengaruh besar,” kata Wawan.
Pemkab Karawang menargetkan penurunan ATS secara bertahap dalam lima tahun ke depan.
Langkah awal dimulai dari verifikasi data di lapangan. Tujuannya jelas: intervensi tepat sasaran.
Karena di balik angka 29 ribu itu, ada masa depan yang sedang menunggu diselamatkan.








