WASHINGTON — Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutunya di NATO kian memanas. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan menarik negaranya keluar dari aliansi militer tersebut.
Ancaman itu muncul setelah Trump menilai NATO tidak memberikan dukungan signifikan terhadap operasi militer AS dalam konflik melawan Iran, khususnya dalam upaya mengamankan Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya kepada media Inggris, Trump menyebut kontribusi NATO tidak sebanding dengan peran besar AS selama ini. Ia bahkan menyindir negara-negara sekutu yang dinilai tidak siap menghadapi krisis energi global akibat terganggunya distribusi minyak.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam eskalasi konflik. Hampir sepertiga pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Sejak meningkatnya ketegangan pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan membatasi lalu lintas, memicu lonjakan harga energi global.
Pernyataan Trump langsung mendapat respons dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menegaskan komitmen negaranya terhadap NATO, namun tetap menolak terlibat dalam perang.
“NATO adalah aliansi paling efektif dalam menjaga keamanan global. Kami akan tetap bertindak sesuai kepentingan nasional Inggris,” ujar Starmer.
Pemerintah Inggris bahkan mengambil langkah diplomatik dengan menggelar pertemuan 35 negara untuk membahas solusi membuka kembali Selat Hormuz tanpa eskalasi militer.
Di sisi lain, retorika Trump semakin tajam. Melalui platform media sosialnya, ia menyindir Inggris dan negara lain agar tidak bergantung pada AS dalam urusan energi dan keamanan.
Situasi ini memperlihatkan retakan serius dalam hubungan transatlantik. Selama puluhan tahun, NATO menjadi pilar utama stabilitas Barat. Namun, sikap unilateral Washington dalam konflik Iran memicu ketidaksepahaman yang semakin terbuka.
Ancaman keluarnya AS dari NATO bukan hanya persoalan politik, tetapi juga berpotensi mengguncang arsitektur keamanan global. Tanpa peran dominan Amerika, keseimbangan kekuatan di Eropa dan Timur Tengah bisa berubah drastis.
Di tengah memanasnya situasi, agenda kunjungan kenegaraan Charles III ke AS akhir bulan ini pun ikut disorot. Momen peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika itu berpotensi menjadi panggung diplomasi krusial, sekaligus ujian hubungan dua sekutu lama yang kini mulai diuji oleh kepentingan geopolitik yang berbeda.








