WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengundurkan batas waktu (deadline) negosiasi dengan Iran untuk ketiga kalinya.
Perpanjangan ini terjadi di saat-saat terakhir menjelang berakhirnya gencatan senjata, memicu tanda tanya besar soal arah kebijakan Washington.
Trump sebelumnya mengklaim kesepakatan dengan Iran sudah sangat dekat. Ia bahkan menyebut Teheran siap menghentikan pengayaan uranium.
Namun hingga kini, klaim tersebut belum mendapat konfirmasi dari pihak Iran.
Senior Fellow Middle East Institute, Jason Campbell, menilai situasi ini mencerminkan kebuntuan serius dalam proses negosiasi.
“Iran sebenarnya sudah menyampaikan proposal, namun isinya masih mencerminkan tuntutan maksimalis. Ini membuat negosiasi sulit bergerak maju,” ujar Campbell Rabu (22/04/2026).
Menurutnya, Gedung Putih juga mencoba menekan Teheran dengan menyoroti dugaan perpecahan di internal kepemimpinan Iran.
“Washington ingin Iran datang dengan posisi yang lebih jelas atau lebih lunak. Tekanan ini bagian dari strategi negosiasi,” tambahnya.
Sementara itu, Trump menyebut pemerintah Iran tidak memiliki posisi yang solid dan belum mampu menyusun proposal yang terpadu.
Di tengah ketidakpastian itu, blokade militer terhadap Iran masih berlangsung.
Meski gencatan senjata diperpanjang, ancaman eskalasi tetap terbuka jika kesepakatan tidak tercapai.
Pengamat menilai langkah Trump yang terus mengulur waktu menunjukkan belum adanya kesepakatan konkret di balik klaim optimistis Gedung Putih.
Jika kebuntuan berlanjut, konflik antara kedua negara berpotensi kembali memanas. (Sumber : AlJazeera)








