JAKARTA — Transformasi kekuatan militer dan pertahanan Indonesia kini mengalami lompatan paradigma yang sangat tajam. Peta jalan pertahanan yang selama belasan tahun bertumpu pada Minimum Essential Force (MEF) atau Kekuatan Pokok Minimum gagasan era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini diakselerasi menjadi kekuatan berdaya gentar tinggi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
MEF sendiri dicanangkan pada 2010 sebagai jalan keluar mendesak untuk menyelamatkan alutsista TNI yang kala itu mulai menua. Era SBY sukses meletakkan dasar birokrasi pengadaan dan belanja besar-besaran untuk mencapai standar kesiapan tempur dasar.
Berdasarkan catatan rekam jejak, SBY melakukan peremajaan masif. Di matra udara, Indonesia mendatangkan 24 unit jet tempur F-16 C/D Block 52ID, 16 unit T-50i Golden Eagle, 16 unit pesawat serang antigerilya Super Tucano, serta melengkapi 16 unit Sukhoi Su-27/30.
Untuk matra darat, era SBY mendobrak dengan memboyong 103 unit Main Battle Tank (MBT) Leopard 2, puluhan IFV Marder, 36 unit peluncur roket MLRS Astros II, hingga 8 unit helikopter serang canggih AH-64E Apache. Sementara di laut, 3 unit Kapal Selam kelas Nagapasa (Chang Bogo) dan 2 unit Perusak Kawal Rudal (PKR) kelas Martadinata berhasil diakuisisi.
Memasuki era Prabowo Subianto, doktrin pertahanan tak lagi sekadar berpuas diri memenuhi batas “minimum”. Akuisisi langsung beralih ke alutsista strategis berteknologi tinggi melalui diplomasi militer tingkat elite.
Lompatan era Prabowo sangat mencolok di postur udara. Kemenhan sukses mengunci kontrak fantastis 42 unit jet tempur generasi 4,5 Dassault Rafale dari Prancis. Selain itu, lini angkut diperkuat dengan kedatangan 5 unit C-130J Super Hercules, pesanan 2 unit pesawat angkut berat A400M Atlas, 13 unit radar GCI Thales GM400a, hingga penandatanganan MoU untuk 24 unit F-15EX dari Amerika Serikat.
Lini pemukul matra laut juga meloncat ke kombatan kelas berat. Prabowo mengeksekusi kontrak 2 unit kapal selam Scorpene Evolved, 2 kapal patroli lepas pantai (PPA) kelas Thaon di Revel dari Italia, pembangunan 2 Fregat Merah Putih (Arrowhead 140), serta mendatangkan kapal penyelamat kapal selam canggih SRV-F Mk.3. Di matra darat, modernisasi ditandai dengan pemesanan ribuan rantis Maung Pindad untuk mobilitas taktis dan penguatan artileri pertahanan udara (Hanud).
Dinamika ini menunjukkan transisi peran yang jelas. SBY bertindak sebagai perintis yang meletakkan cetak biru penyelamatan alutsista usang melalui kuantitas terstruktur, sementara Prabowo hadir sebagai akselerator tangguh yang sukses membawa kualitas teknologi lompatan jauh, mengubah wajah militer RI menjadi kekuatan utama yang disegani di kawasan Indo-Pasifik.








