Oleh: Sony Fitrah Perizal, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat
MATA saya terbelalak melihat grafik itu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kita melorot. Posisinya ambles, bahkan lebih rendah jika ditarik garis ke belakang hingga lima tahun yang lalu. Padahal, kalau Anda rajin membaca koran atau mendengarkan pidato para menteri, narasi yang keluar selalu seragam: fundamental ekonomi kita sedang bagus-bagusnya!
Lantas, di mana setannya? Mengapa pasar modal justru lesu darah?
Sore itu, saya mendengarkan penjelasan mencerahkan dari Kang Alif, seorang akademisi ITB yang dikenal tajam analisisnya. Tangannya lincah mencoret-coret layar komputer tabletnya, membedah data APBN terbaru yang baru saja diumumkan pemerintah. Dari coretan tangannya, misteri ini mulai benderang.
“Mari kita lihat struktur APBN kita secara riil,” ujar Kang Alif.
Angka-angkanya begini: Pendapatan negara kita berada di kisaran Rp1.185 triliun. Sementara itu, belanja negara melonjak hingga Rp1.365,9 triliun. Namanya juga pasak lebih besar dari tiang, maka otomatis terjadi defisit negatif sekitar Rp180,4 triliun.
Secara makro, angka defisit ini setara dengan 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kang Alif kemudian membuat kalkulasi proyeksi tahunan. Jika angka 0,7 persen itu dikalikan porsi periodik dua belas per lima, maka estimasi defisit di akhir tahun nanti akan bertengger di angka sekitar 1,68 persen.
Secara regulasi, angka 1,68 persen itu sebenarnya sangat bagus. Kenapa? Karena undang-undang kita mematok batas aman maksimal defisit (max deficit) di bawah 3 persen. Bahkan, jika merujuk pada target resmi pemerintah, proyeksi defisit tahun ini dicanangkan berada di angka 2,68 persen. Berarti, realisasi sejauh ini jauh lebih efisien dari target.
Lalu, kalau pengelolaan anggarannya rapi dan sehat, mengapa investor justru kabur dan membuat IHSG tiarap?
Di sinilah letak psikologi pasar. Benar bahwa makroekonomi kita terkendali. Namun, pasar modal tidak hanya membaca angka di atas kertas hari ini, mereka membaca ketidakpastian esok hari.
Ketika belanja negara terus membengkak melampaui pendapatan, pasar melihat adanya risiko pengetatan likuiditas di masa depan. Ditambah lagi faktor global—mulai dari suku bunga tinggi di Amerika hingga sentimen geopolitik—yang membuat modal asing memilih pulang kampung ke aset yang lebih aman (safe haven).
Lalu bagaimana masyarakat Indonesia harus menyikapinya?
Secara bijak, kita tidak perlu ikut-ikutan panik berlebihan hingga memborong dolar atau menjual semua aset secara rugi (cutting loss) massal. Penurunan IHSG yang tidak sejalan dengan fundamental dalam negeri ini justru menjadi penanda bahwa pasar sedang mengalami mispricing atau salah harga.
Bagi investor domestik, ini adalah momen untuk bersikap rasional dan jeli. Ketika saham-saham perusahaan berfundamental kokoh ikut terdiskon akibat kepanikan global, di situlah peluang investasi jangka panjang terbuka.
Sikap bijak kita adalah tetap percaya pada mesin ekonomi riil dalam negeri, sambil terus memantau agar pemerintah tetap disiplin menjaga defisit anggaran tersebut di bawah koridor aman. Pasar modal boleh bergejolak, tapi ekonomi konsumsi kita di akar rumput harus tetap berputar.








